ORGANISASI OSIS

Ibarat Api Unggun, Selalu membutuhkan Kayu Bakar untuk terus Berkobar. Organisasi membutuhak Kader untuk bisa selalu bergerak.

PENGORBANAN

Pengorbanan adalah dimana ketika kita bisa mengikhlaskan diri kita terlibat didalam setiap kebaikan, walau dalam kelelahan, kesempitan kita selalu ada dalam setiap Kebaikan.

PRESTASI

Prestasi Terbaik adalah dimana ketika seseorang mampu memahami dan mengerti keadaan orang - orang disekitarnya.

KEBERHASILAN

Dimulai dari keteguhan hati, Kesungguhan Jiwa, Ketekunan tekat, dan Keyakinan pikiran, akan membawa diri pada keridho'an Allah SWT dalam mencapai segala cita - cita hidup dan kebahagiaan yang sesungguhnya.

KESEMPURNAAN

Sempurna itu bukan karena kita semua sama, tetapi kesempurnaan itu terletak diantara perbedaan yang kita miliki, kemudian kita sling memahami, saling melengkapi sehingga terciptalah kesempurnaan yang sesungguhnya, karena itulah memahami orang lain itu Amazing.

Tuesday, September 16, 2025

D. Aplikasi Monitoring Jaringan



 Beberapa aplikasi monitoring jaringan :

  1. Multi Router Traffic Grapher (MRTG)

    Apa itu MRTG ?

    MRTG adalah sebuah tool yang digunakan oleh seorang admin jaringan untuk memonitoring trafik pada jaringan. Penggunaan MRTG ini nantinya menghasilkan halaman HTML yang berisi gambar yang menyediakan visualisasi secara langsung mengenai keadaan trafik jaringan sehingga dapat membantu administrator jaringan dalam memantau keadaan jaringannya.

    MRTG terdiri atas skrip perl yang menggunakan SNMP untuk membaca counter trafik yang masuk atau keluar dari router atau peralatan jaringan anda dan program C yang akan mencatat data trafik ke dalam file database dan membuat grafik yang indah yang menggambarkan trafik pada jaringan yang anda monitor. Grafik ini sudah termasuk dalam halaman web yang dapat dilihat dari web-browser. MRTG juga membuat representasi visual dari trafik yang terlihat selama tujuh hari terakhir, empat minggu terakhir dan dua belas bulan terakhir. Hal ini memungkinkan karna MRTG menyimpan log dari semua data trafik yang telah dikumpulkan dari peralatan yang diamati. MRTG tidak hanya terbatas untuk memonitor trafik yang lewat pada interface saja, software ini juga memungkinkan pengguna untuk memonitor variabel SNMP sesuai dengan pilihan pengguna, selain itu biasanya pengguna MRTG ini menggunakannya untuk memonitor sistem load, sesi login, ketersediaan modem dan sebagainya.

    Sejarah MRTG

    Multi Router Traffic Grapher pertama kali dibuat oleh Tobias Oetiker pada tahun 1994 pada saat itu jaringan internet yang dipunya oleh sang penemu memiliki sambungan internet dengan kecepatan 64 Kbps yang menghubungkan lebih dari 1000 unit komputer. Hal ini membuat user sangat tertarik untuk mengetahui keadaan status jaringan terutama pada router utamanya. Pada situasi seperti ini membuat sang penemu Tobias Oetiker membuat program yang membuat update secara periodic dalam bentuk graphic berbasis web tentang load trafik link internet (router utama). Setiap lima menit program tersebut meminta data “octet counter” dari gateway router universitas De Montfort di kota Leicester, UK tempat Tobias Oetiker ini bekerja. Hal ini nantinya dikembangkan dalam bentuk skrip perl yang dapat dikonfigurasi dengan mudah yang disebut MRTG-1 pada saat beliau mengeluarkan pada internet pada tahun 1995.Pada saat pertama kali digunakan umum penemu banyak menerima komplain dari pengguna karna software ciptaanya berjalan sangat lambat. Menurut beliau hal ini dikarenakan program ciptaanya sangat tidak efisien dan semua krip ditulis dalam bahasa pemrograman perl, kemudian dibantu oleh seorang temannya Dave Rand menulis ulang semua program MRTG-1 semua skrip-skripnya ditulis ulang kedalam bahasa C, ternyata hal ini dapat meningkatkan kecepatan dari MRTG-1 dengan factor 40 kali. Keberadaan MRTG dengan memonitoring web-based ini tidak meningkatkan kapasitas link jaringan, tapi data trafik yang disediakan oleh MRTG ini dapat menjadi acuan bagi admin jaringan untuk melihat apakah link jaringan yang ada masih layak digunakan atau perlu tambahan bandwitch lagi.

    Cara Kerja MRTG

    Data hasil logging olah MRTG disimpan dalam file ASCII, file ini akan ditulis ulang setiap lima menit sekali sesuai dengan update yang dilakukan oleh MRTG dan secara instant digabungkan dan dianalisis sehingga file logging tersebut membesarnya terkendali. File logging tersebut hanya digunakan untuk menyimpan data yang dibutuhkan untuk menggambar pada halaman web. Grafik ini dikonversi ke format GIF dari format PNM menggunakan tool pnmtogif.

    Konfigurasi ini yang mengakibatkan MRTG terbatas untuk memonitor sekitar dua puluh router dari workstation.Kendala lain yang sangat potensial bagi user adalahtool smnpget dari package CMU SNMP yang diperlukan oleh MRTG untuk mengumpulkan data. Paket CMU SNMP ini sangat sulit untuk dikompilasi pada berbagai macam platform waktu itu.Karena keterbatasan-keterbatasan diatas maka penemu dan rekannya melakukan perombakan pada MRTG versi pertama, mereka membuat sebuah program rateup yang memecah MRTG dalam masalah kinerja dengan mengimplementasikan dua hal subprogram dalam MRTG yang menghabiskan CPU paling banyak dalam bahasa C dan menghilangkan subprogram tersebut ke dalam skrip perl MRTG.

    Rateup ini melakukan penulisan ke file log dan menggambar grafik. Masalah portabilitas SNMP diselesaikan dengan mengganti snmpget dari CMU SNMO ke modul SNMP perl yang ditulis dalam bahasa perl secara murni, dengan begitu masalah platform dapat teratasi. Asumsi dasar untuk mendesain file log MRTG versi baru adalah ketertarikan pada informasi secara detail tentang load jaringan dikurangi secara proporsional dalam satuan waktu untuk memungkinkan antara koleksi data dan analisisnya, konfigurasi ini memungkinkan implementasi dari file log yang menyimpan data trafik dengan mengurangi resolusi ke dalam masa lalu.

  2. Cacti

    Cacti adalah salah satu aplikasi open source yang merupakan solusi pembuatan grafik network yang lengkap yang di design untuk memanfaatkan kemampuan fungsi RRDTool sebagai penyimpanan data dan pembuatan grafik. Cacti menyediakan pengumpulan data yang cepat, pola grafik advanced, metoda yang mudah digunakan mudah dipahami untuk local area network sehingga network yang kompleks dengan ratusan device. Dengan menggunakan cacti kita dapat memonitor trafik yang mengalir pada sebuah server dan cacti juga merupakan fronted dari RDDTool yang menyimpan informasi ke dalam database MySQL dan membuat graph dari informasi tersebut.

    Dengan Cacti, kita dapat memonitor dan melihat grafik beban CPU, penggunaan Memory, kapasitas hardisk, trafik atau lalu lintas jaringan, informasi pemakaian bandwidth internet, dan lain-lain.

  3. Zabbix

    Zabbix adalah salah satu software open source yang dapat digunakan untuk memonitor jaringan, dan status dari berbagai network services, servers dan network hardware lainnya. Software ini diciptakan oleh Alexei Vladishev. Dengan zabbix, user dapat mudah mengetahui status server, kondisi jaringan dan mendapatkan notifikasi jika terjadi gangguan, zabbix juga sudah mendukung polling dan trapping. Zabbix membutuhkan database untuk menyimpan data monitoringnya, database yang digunakan seperti MySQL, PostgreSQL, Oracle, dan SQLite.

    Keunggulan atau fitur-fitur yang dimilki oelh zabbix :

    • User Friendly, Penggunaan zabbix sangat memudahkan user dalam mengontrol server dan network
    • Real time Monitoring
    • Memberikan informasi masalah melalui E-mail dan SMS (Short Message Service), Admin dapat mengatur notifikasi jika terjadi masalah dengan melalui E-mail dan SMS (Short Message Service)
    • Filter untuk laporan trafic, Admin dapat membuat laporan dengan template yang berbeda-beda
    • Multi Operating System
    • Sisi Keamanan cukup unggul karena adanya authentifikasi dengan IP address

     

    Komponen utama zabbix :

    • Zabbix Server

      Zabbix server adalah kompenan utama Zabbix. Komponen ini berisi konfigurasi dari zabbix dan service network.

    • Zabbix Agent

      Zabbix Agent adalah komponen yang berisi aplikasi monitor dan local resources.

    • Zabbix Web Interface

      Zabbix Web Interface adalah Komponen yang digunakan untuk mengakses monitoring data dan mengkonfigurasinya.

  4. Nagios

    Nagios merupakan aplikasi open source yang digunakan untuk memonitoring infrastruktur jaringan. Dengan Nagios, anda dapat melakukan monitoring terhadap server, switch, router, aplikasi, layanan, dll. Nagios juga dapat memberikan pemberitahuan jika ada sesuatu yang salah pada server atau layanan yang dimonitoring serta dapat memberitahukan jika server atau layanan tersebut telah diperbaiki.

    Beberapa keunggulan Nagios antara lain :

    • Memonitoring servis jaringan (SMTP, POP3, HTTP, NNTP, PING, dsb).
    • Memonitoring sumber- sumber host (load prosesor, penggunaan disk, dsb).
    • Desain plugin yang serderhana, yang mengijinkan pengguna untuk lebih mudah menggunakan pemeriksaan terhadap servisnya.
    • Kemampuan untuk mendefinisikan kejadian yang ditangani selama servis atau host berlangsung untuk mempermudah pemecahan masalah perputaran file log yang otomatis.
    • Web-based interface.
    • Jika terjadi masalah, Nagios dapat menghubungi user lewat email dan sms.
    • Notifikasi kontak saat servis atau host mengalami masalah dan saat masalah terselesaikan (melalui email, pager, atau metode yang didefenisikan oleh pengguna).
    • Kemampuan untuk menentukan bentuk penanganan yang akan dijalankan selama layanan atau host secara proaktif untuk penyelesaian masalah.

 




Sumber :

  • https://www.academia.edu/10835260/Monitoring_Sistem_Jaringan_Komputer_1_Pendahuluan_Mengenai_Sistem_Monitoring
  • https://kelasjarkom.wordpress.com/category/multi-router-traffic-grapher-by-rinaldy-origenes-a/
  • https://gio.helpjuice.com/id_ID/98220-monitoring/cara-instalasi-dan-konfigurasi-nagios-di-linux-serta-fitur-fiturnya

C. Protokol Monitoring Jaringan

Kebutuhan akan sebuah sistem monitoring jaringan disebabkan oleh kebutuhan akan pemerolehan data monitoring dari sumber daya peralatan lain.

 

Model manajemen yang baku pada jaringan internet didesain agar dapat memgoiberikan kebebasan suatu manajer jaringan (network manager) untuk dapat melakukan analisis data dari suatu peralatan jaringan. Manajer jaringan juga dapat melakukan perubahan konfigurasi dari suatu peralatan jaringan yang ada.

Sebuah software agent perlu di-install pada masing-masing peralatan jaringan. Agent tersebut menerima pesan dari manajer jaringan. Pesan tersebut umumnya berupa permintaan (request) untuk membaca data dari peralatan jaringan atau menulis data ke peralatan jaringan. Selanjutnya si agent mengurus request tersebut dan memberikan respons balik ke manajer jaringan.

Sebuah agent tidak harus selalu menunggu suatu request dari manajer jaringan akan suatu informasi. Ketika terjadi masalah yang serius (significant event), si agent dapat mengirimkan pesan notifikasi yang disebut dengan trap ke satu atau lebih manajer jaringan. Protokol yang sesuai untuk semua pesan antara agent dan manajer jaringan adalah User Datagram Protocol (UDP), namun semua protokol pembawa pesan yang lain masih tetap dimungkinkan dan dapat diterapkan [FEI1995]. Gambaran secara lengkap mengenai sistem manajemen jaringan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Protokol monitoring jaringan :

  1. SNMP (Simple Network Management Protocol)

    SNMP pada awalnya hanya dikhususkan pada manajemen jaringan TCP/IP, yaitu untuk melakukan manajemen informasi yang berkaitan dengan IP dan TCP, seperti pengubahan dari IP address ke suatu alamat fisik, jumlah data incoming dan outgoing IP datagram, atau tabel informasi mengenai koneksi TCP yang mungkin terjadi. Namun selanjutnya berkembang dengan memberikan dukungan informasi pada berbagai protokol jaringan, seperti DECne, AppleTalk, dan NetWare IPX/SPX. Dukungan SNMP juga sampai pada berbagai fungsi yang terdapat di dalam sebuah multiprotocol routers.

    SNMP adalah sebuah protokol yang dirancang untuk memberikan kemampuan kepada pengguna untuk memantau dan mengatur jaringan komputernya secara sistematis dari jarak jauh atau dalam satu pusat kontrol saja. Dengan menggunakan protokol ini kita bisa mendapatkan informasi tentang status dan keadaan dari suatu jaringan. Pengolahan ini dijalankan dengan menggumpulkan data dan melakukan penetapan terhadap variabel-variabel dalam elemen jaringan yang dikelola.

    SNMP adalah protokol populer untuk melakukan network manajemen. SNMP digunakan untuk mengumpulkan informasi, dan mengkonfigurasi, peralatan jaringan, seperti, server, printer, hub, switch, dan router di jaringan berbasis Internet Protocol (IP). SNMP dapat mengumpulkan informasi seperti kondisi CPU, temperatur chasis, dan hampir tidak ada batas akan apa yang dapat dikonfigurasi oleh SNMP.

    Protokol ini menggunakan transport UDP pada port 161. Protocol UDP sebagai pilihan dan direkomendasikan sebagai protocol transport untuk SNMP karena UDP sangat mudah diimplementasikan dan dijalankan tidak seperti TCP yang cukup rumit dan selalu membutuhkan sejumlah memory dan sumber daya CPU. Suatu vendor dapat membuat IP yang sederhana dan memasukkan UDP ke dalam jaringan mereka seperti repeater dan modem. Jumlah total software transport yang diperlukan kecil dan mudah dipaketkan ke dalam read-only memory (ROM). User Datagram Protocol sangat rendah overhead-nya, cepat dan tidak reliabel.

    Komponen SNMP

    1. Managed Deivce

      Sebuah managed device adalah sebuah node di jaringan yang berisi agen SNMP yang berada di jaringan yang dapat di manage. Managed device akan mengumpulkan dan menyimpan informasi manajemen dan membuat informasi ini tersedia bagi NMS menggunakan SNMP. Managed device, kadang kala di sebut elemen jaringan, dapat berupa router dan akses server, switch dan bridge, hub, host komputer atau printer.

    2. Agent

      Agent adalah sebuah modul software network manajemen yang berada di dalam managed device. Agen ini mengetahui tentang informasi manajemen dan dalam menterjemahkan ke informasi yang kompatibel dengan SNMP.

    3. Network Management System (NMS)

      Aplikasi NMS menjalankan aplikasi yang dapat memonitor dan mengontrol managed device. NMS memberikan resource memory dan prosesor yang dibutuhkan untuk manajemen network. Satu atau lebih NMS harus ada dalam sebuah jaringan yang di manage.

    Versi SNMP

    1. SNMP versi 1 (SNMPv1)

      SNMPv1 adalah implementasi awal dari protokol SNMP. SNMPv1 beroperasi di atas protokol lain, seperti, User Datagram Protocol (UDP), Internet Protocol (IP), OSI Connectionless Network Service (CLNS), AppleTalk Datagram-Delivery Protocol (DDP), dan Novell Internet Packet Exchange (IPX). SNMPv1 banyak digunakan dan menjadi de-facto protokol untuk manajemen jaringan di komunitas Internet. Beberapa RFC pertama untuk SNMP, yang sekarang di kenal sebagai Simple Network Management Protocol versi 1, muncul di tahun 1998.

    2. SNMP versi 2 (SNMPv2)

      SNMPv2 tidak di adopsi secara luas karena ke tidak sepakatan mengenak kerangka keamanan di dalam standard. Simple Network Management Protocol versi 2 (RFC 1441–RFC 1452), yang juga di kenal sebagai SNMP v2 atau SNMP v2p, merevisi versi 1 dan memasukan beberapa perbaikan masalah performance, keamanan, kerahasian, dan komunikasi antar manager. SNMP v2 memperkenalkan GETBULK, sebuah alternatif dari iterasi GETNEXT untuk data manajemen dalam jumlah besar melalui satu perintah saja. Akan tetapi, kebanyakan melihatnya terlalu rumit, sehingga tidak secara luas di adopsi.

    3. SNMP versi 3 (SNMPv3)

      IETF mengakui Simple Network Management Protocol versi 3 seperti di definisikan oleh RFC 3411–RFC 3418 (juga di kenal sebagai STD0062) sebagai standard SNMP sejak 2004. IETF menganggap versi sebelumnya sebagai “Obsolete” atau “Historical”. Di sisi praktis, implementasi SNMP biasanya memberikan dukungan bagi banyak versi, terutama SNMPv1, SNMPv2c, dan SNMPv3. Ada baiknya membaca RFC 3584 “Coexistence between Version 1, Version 2, and Version 3 of the Internet-standard Network Management Framework”. SNMPv3 memberikan tiga (3) servis yang penting, yaitu, authentikasi, privasi dan access control.

    Elemen SNMP

    1. Manager
      • Merupakan software yang berjalan di sebuah host di jaringan.
      • Bertugas meminta informasi ke Agent.
      • Manajer ini terdiri atas satu proses atau lebih yang berkomunikasi dengan agen-agennya dan dalam jaringan.
      • Manajer akan mengumpulkan informasi dari agen tidak meminta semua informasi yang dimiliki oleh agen, tetapi hanya meminta informasi tertentu saja yang akan digunakan untuk mengamati unjuk kerja jaringan.
      • Manager biasanya menggunakan komputer yang memiliki tampilan grafis dan berwarna sehingga selain dapat menjalankan fungsinya sebagai Manager, juga untuk melihat grafik unjuk kerja dari suatu elemen jaringan yang dihasilkan oleh proses monitoring.
    2. Agent
      • Agent merupakan perangkat lunak yang dijalankan disetiap elemen jaringan yang dikelola.
      • Setiap agen mempunyai basis data variabel yang bersifat lokal yang menerangkan keadaan dan berkas aktivitasnya dan pengaruhnya terhadap operasi.
    3. MIB
      • Management Information Base, merupakan struktur basis data variabel dari elemen jaringan yang dikelola.
      • Struktur ini bersifat hierarki dan memiliki aturan sedemikian rupa sehingga informasi setiap variabel dapat dikelola atau ditetapkan dengan mudah.
      • Pada kelompok interface terdapat variabel objek MIB yang mendefinisikan karakteristik interface diantaranya :
        – ifInOctets mendefinisikan jumlah total byte yang diterima,
        – ifOutOctets mendefinisikan jumlah total byte yang dikirim,
        – ifInErrors mendefinisikan jumlah paket diterima yang dibuang karena rusak,
        – ifOutErrors mendefinisikan jumlah paket dikirim yang dibuang karena rusak, dan
        – variable
      • MIB di akses menggunakan protokol network-manajemen seperti SNMP. MIB terdiri dari managed objek dan di identifikasi oleh object identifier (pengidentifikasi objek). Sebuah managed object, kadang kala di sebut sebagai MIB object, objek, atau MIB, adalah satu dari banyak karakteristik spesifik dari peralatan yang di manage. Managed object berisi satu atau lebih objek, yang pada dasarnya berupa variabel.
        Ada dua jenis managed object yang ada, yaitu,
        – Scalar object, yang mendefinisikan sebuah objek saja.
        – Tabular object (objek tabel), mendefinisikan banyak objek terkait yang di kumpulkan dalam tabel MIB.
        Sebagai contoh, sebuah managed object – atInput, adalah sebuah scalar object yang berisi satu buah objek kejadian, bernilai bilangan bulat yang mengindikasikan jumlah total paket yang masuk ke sebuah interface jaringan. Sebuah object identifier (atau object ID atau OID) akan secara unik mengidentifikasi sebuah managed object di hirarki MIB.

    Arsitektur SNMP

    Framework dari SNMP terdiri dari:

    1. Master Agent

      Master Agent Merupakan perangkat lunak yang berjalan pada perangkat yang mendukung SNMP, fungsinya merespon permintaan dari SNMP management station. Master agent kemudian meneruskan kepada sub agent untuk memberikan informasi tentang management dengan fungsi tertentu. Sebagai contoh, sebuah router dapat menjawab permohonan SNMP dari management station. Oleh karenanya sebetulnya berfungsi sebagai server dalam arsitektur client-server atau sebagai daemon dalam terminologi sistem operasi. Sebuah master agen bergantung pada subagen untuk memperoleh oleh informasi manajemen dari sebuah fungsi yang spesifik. Master agen juga sering di sebut sebagai managed object.

    2. Sub Agent

      Sub Agent merupakan perangkat lunak yang berjalan pada perangkat yang mendukung SNMP dan mengimplementasikan MIB. Fungsinya mengumpulkan informasi untuk selanjutnya diproses oleh management stations. Subagen adalah sebuah software yang jalan di komponen jaringan yang mampu SNMP yang mengimplementasikan fungsi untuk informasi dan manajemen seperti di definisikan oleh MIB dari subsistem yang spesifik, contoh Ethernet link layer. Beberapa kemampuan subagen adalah: Mengumpulkan informasi untuk managed object. Mengkonfigurasi parameter dari managed object. Merespon kepada permintaan / request dari manager.

    3. Management Stations

      Management Station merupakan client dan melakukan permintaan serta mendapatkan trap dari SNMP server. Management Stations adalah komponen akhir dari arsitektur SNMP. Fungsinya equivalen dengan clent di arsitektur client-server. Stasiun managemen akan mengirimkan request untuk operasi manajemen atas nama administrator jaringan atau aplikasi dan menerima tangkapan dari agen-agen.

    Jenis-jenis Pesan SNMP

    Pesan			| 	Uraian
    ------------------------------------------------------
    Get-request		| Meminta nilai sebuah vareabel atau lebih
    Get-next-request	| Meminta vareabel setelah itu
    Get-bulk-request	| Mengambil sebuah tabel berukuran besar
    Set-request		| Memperbaharui sebuah variabel atau lebih
    Inform-request		| Pesan manajer ke manajer yang menjelaskan MIB lokal
    SNMPv2-trap		| Laporan tiap agen ke manajer
    

     

 

Sumber :

  • https://www.academia.edu/10835260/Monitoring_Sistem_Jaringan_Komputer_1_Pendahuluan_Mengenai_Sistem_Monitoring

B. Tujuan Monitoring Jaringan



Banyak hal dalam jaringan yang bisa dimonitoring, salah satu diantaranya load traffic jaringan yang lewat pada sebuah router atau interface komputer.

Monitoring dapat dilakukan dengan Standar protokol SNMP, selain load traffic jaringan, kondisi jaringan pun harus dimonitoring, misalnya status up atau down dari sebuah peralatan jaringan. Monitoring Jaringan Komputer dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu:

  1. Connection Monitoring

    Connection monitoring adalah teknik monitoring jaringan yang dapat dilakukan dengan melakukan tes ping antara monitoring station dan device target, sehingga dapatdiketahui bila koneksi terputus.

  2. Traffic Monitoring

    Traffic monitoring adalah teknik monitoring jaringan dengan melihat paket aktual dari traffic pada jaringan dan menghasilkan laporan berdasarkan traffic jaringan.

Tujuan Monitoring Jaringan Komputer adalah untuk mengumpulkan informasi yang berguna dari berbagai bagian jaringan sehingga jaringan dapat diatur dan dikontrol dengan menggunakan informasi yang telah terkumpul. Dengan begitu diharapkan jika terjadi touble atau permasalahan dalam jaringan akan cepat diketahui dan diperbaiki sehingga stabilitas jaringan lebih terjamin. Berikut ini beberapa alasan utama dilakukan monitoring jaringan:

  1. Untuk menjaga stabilitas jaringan.
  2. Sulit untuk mengawasi apa yang sedang terjadi di dalam jaringan yang memiliki sejumlah besar mesin (host) tanpa alat pengawas yang baik.
  3. Untuk mendeteksi kesalahan pada jaringan, gateway, server, maupun user.
  4. Untuk memberitahu trouble kepada administrator jaringan secepatnya.
  5. Mempermudah analisis troubleshooting pada jaringan.
  6. Mendokumentasikan jaringan.




Sumber :

  • https://www.academia.edu/10835260/Monitoring_Sistem_Jaringan_Komputer_1_Pendahuluan_Mengenai_Sistem_Monitoring

A. Memahami Sistem Kontrol dan Monitoring

Monitoring jaringan adalah salah satu fungsi dari management yang berguna untuk menganalisa apakah jaringan masih cukup layak untuk digunakan atau perlu tambahan kapasitas.

Hasil monitoring juga dapat membantu jika admin ingin mendesain ulang jaringan yang telah ada. Banyak hal dalam jaringan yang bisa dimonitoring, salah satu diantaranya load traffic jaringan yang lewat pada sebuah router atau interface komputer. Monitoring dapat dilakukan dengan standar SNMP, selain load traffic jaringan, kondisi jaringan pun harus dimonitoring, misalnya status up atau down dari sebuah peralatan jaringan. Hal ini dapat dilakukan dengan utilitas ping.

Sebuah sistem monitoring melakukan proses pengumpulan data mengenai dirinya sendiri dan melakukan analisis terhadap data-data tersebut dengan tujuan untuk memaksimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki. Data yang dikumpulkan pada umumnya merupakan data yang real-time, baik data yang diperoleh dari sistem yang hard real-time maupun sistem yang soft real-time.

Sistem yang real-time merupakan sebuah sistem dimana waktu yang diperlukan oleh sebuah komputer didalam memberikan stimulus ke lingkungan eksternal adalah suatu hal yang vital. Waktu didalam pengertian tersebut berarti bahwa sistem yang real-time menjalankan suatu pekerjaan yang memiliki batas waktu (deadline).

Di dalam batas waktu tersebut suatu pekerjaan mungkin dapat terselesaikan dengan benar atau dapat juga belum terselesaikan. Sistem yang real-time mengharuskan bahwa suatu pekerjaan harus terselesaikan dengan benar. Sesuatu yang buruk akan terjadi apabila komputer tidak mampu menghasilkan output tepat waktu. Hal ini seperti yang terjadi pada embedded system untuk kontrol suatu benda, seperti pesawat terbang, dan lain-lain.

Sistm yang soft real-time tidak mengharuskan bahwa suatu pekerjaan harus terselesaikan dengan benar. Seperti sistem multimedia dimana tidak akan memberikan pengaruh yang begitu besar terhadap output yang dihasilkan apabila untuk beberapa batasan waktu yang ditetapkan terjadi kehilangan data.

Secara garis besar tahapan dalam sebuah sistem monitoring terbagi ke dalam tiga proses besar, yaitu:

  1. Proses pengumpulan data monitoring
  2. Proses analisis data monitoring
  3. Proses menampilkan data hasil monitoring.

Keseluruhan proses dapat dilihat pada gambar. Sumber data dapat berupa network traffic, informasi mengenai hardware, dan lain sebagainya. Proses dalam analisis data dapat berupa pemilihan data dari sejumlah data yang telah terkumpul atau bisa juga berupa manipulasi data sehingga diperoleh informasi yang diharapkan. Sedangkan tahap menampilkan data hasil monitoring menjadi informasi yang berguna di dalam pengambilan keputusan atau kebijakan terhadap sisetm yang sedang berjalan dapat berupa sebuah tabel, gambar, kurva, atau animasi.

Aksi yang terjadi diantara proses-proses yang ada di dalam sebuah sistem monitoring adalah berbentuk service, yaitu suatu proses yang terus-menerus berjalan pada interval waktu tertentu. Proses yang dijalankan dapat berupa pengumpulan data dari objek yang di-monitor atau melakukan analisis data yang telah diperoleh dan menampilkannya. Proses yang terjadi tersebut bisa saja memiliki interval waktu yang berbeda. Contoh interval waktu didalam pengumpulan data dapat terjadi tiap lima menit sekali. Namun pada proses analisis data terjadi tiap satu jam sekali untuk menghasilkan informasi yang diharapkan membutuhkan lebih dari satu sampel data, misal untuk nilai rataan data (average) dengan sebanyak 60 sampel data.

 

 

 

 

 

 

Sumber :

  • https://www.academia.edu/10835260/Monitoring_Sistem_Jaringan_Komputer_1_Pendahuluan_Mengenai_Sistem_Monitoring

Monday, September 15, 2025

J. Instalasi dan Konfigurasi VPN Server

 1. Topologi Jaringan

Konfigurasi Server :
--------------------------------------------------
- Sistem Operasi        : Linux Debian 10 (Buster)
- Hostname              : ns100.sekolah100.sch.id
- IP Address NIC 1      : 10.20.30.128/24
- Gateway               : 10.20.30.254
- DNS                   : 10.20.30.254
- IP Address NIC 2      : 192.168.100.1/24
- Domain                : sekolah100.sch.id

- Seting DHCP Server    : Yes
- Seting DNS Server     : Yes


Konfigurasi Client :
--------------------------------------------------
- Sistem Operasi        : Windows XP
- IP Address            : Assigned by DHCP

2. Seting Server

  1. Konfigurasi DHCP Server
    Konfigurasi dan seting DHCP Server dapat dilihat pada artikel “Instalasi dan Konfigurasi DHCP Server“

  2. Konfigurasi DNS Server
    Konfigurasi dan seting DNS Server dapat dilihat pada artikel “Instalasi dan Konfigurasi DNS Server“

  3. Konfigurasi VPN Server

    Update dan upgrade debian Buster

root@ns100:~# apt -y update && apt -y upgrade

 

Install paket pptpd

root@ns100:~# apt -y install pptpd

Setting up ppp (2.4.7-2+4.1+deb10u1) ...
Created symlink /etc/systemd/system/multi-user.target.wants/pppd-dns.service → /lib/systemd/system/pppd-dns.service.
Setting up pptpd (1.4.0-11+b1) ...
update-rc.d: warning: start and stop actions are no longer supported; falling back to defaults
Processing triggers for systemd (241-7~deb10u5) ...
Processing triggers for man-db (2.8.5-2) ...
Processing triggers for libc-bin (2.28-10) ...
    1. Konfigurasi pptpd.conf

      root@ns100:~# nano /etc/pptpd.conf
      
      ###############################################################################
      # $Id$
      #
      # Sample Poptop configuration file /etc/pptpd.conf
      #
      # Changes are effective when pptpd is restarted.
      ###############################################################################
      
      # TAG: ppp
      #       Path to the pppd program, default '/usr/sbin/pppd' on Linux
      #
      #ppp /usr/sbin/pppd
      
      # TAG: option
      #
      #
      #
      # (Recommended)
      #localip 192.168.0.1
      #remoteip 192.168.0.234-238,192.168.0.245
      # or
      #localip 192.168.0.234-238,192.168.0.245
      #remoteip 192.168.1.234-238,192.168.1.245
      #
      
      localip 192.168.100.1,10.20.30.128
      remoteip 192.168.100.20-30
      

       

      Konfigurasi user pptp

      root@ns100:~# nano /etc/ppp/chap-secrets
      
      # Secrets for authentication using CHAP
      # client        server  secret          IP addresses
      
      hyd             pptpd   hyd123          *
      paijo           pptpd   paijo123        *
      user1           pptpd   user1           *
      user2           pptpd   user2           *
      user3           pptpd   user3           *
      user4           pptpd   user4           *
      

       

      Konfigurasi DNS untuk user pptp

      root@ns100:~# nano /etc/ppp/pptpd-options
      
      ###############################################################################
      # $Id$
      #
      # Sample Poptop PPP options file /etc/ppp/pptpd-options
      # Options used by PPP when a connection arrives from a client.
      # This file is pointed to by /etc/pptpd.conf option keyword.
      # Changes are effective on the next connection.  See "man pppd".
      #
      # You are expected to change this file to suit your system.  As
      # packaged, it requires PPP 2.4.2 and the kernel MPPE module.
      ###############################################################################
      
      
      # Authentication
      
      # Name of the local system for authentication purposes
      
      # Network and Routing
      
      # If pppd is acting as a server for Microsoft Windows clients, this
      # option allows pppd to supply one or two DNS (Domain Name Server)
      # addresses to the clients.  The first instance of this option
      # specifies the primary DNS address; the second instance (if given)
      # specifies the secondary DNS address.
      # Attention! This information may not be taken into account by a Windows
      # client. See KB311218 in Microsoft's knowledge base for more information.
      #ms-dns 10.0.0.1
      #ms-dns 10.0.0.2
      #
      ms-dns 192.168.100.1
      ms-dns 10.10.129.5
      ms-dns 8.8.8.8
      
      

       

      Restart service pptpd

      root@ns100:~# /etc/init.d/pptpd restart
      [ ok ] Restarting pptpd (via systemctl): pptpd.service.

3.  Pengujian dari jaringan lokal Server VPN

Membuat Network Connection VPN di Windows XP 

  1.  

     

    Konek ke Server VPN

     

     

 

 

  1. Pengujian dari jaringan luar atau publik internet

    Topologi jaringan

     

    Seting VPN di Windows 10

     

    Memriksa IP address yang di dapat dari Server VPN melalui jaringan publik

    C:\Users\HYD ipconfig
    
    Windows IP Configuration
    Ethernet adapter Ethernet:
    Ethernet adapter Ethernet 3:
    
    PPP adapter HYD VPN Connection :
    
       Connection-specific DNS Suffix  . :
       IPv4 Address. . . . . . . . . . . : 192.168.100.21
       Subnet Mask . . . . . . . . . . . : 255.255.255.255
       Default Gateway . . . . . . . . . : 0.0.0.0
    

     

    Ping ke Server VPN

    C:\Users\HYD ping 10.20.30.128
    
    Pinging 10.20.30.128 with 32 bytes of data:
    Reply from 10.20.30.128: bytes=32 time<1ms TTL=64
    Reply from 10.20.30.128: bytes=32 time<1ms TTL=64
    Reply from 10.20.30.128: bytes=32 time<1ms TTL=64
    Reply from 10.20.30.128: bytes=32 time<1ms TTL=64
    
    Ping statistics for 10.20.30.128:
        Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
    Approximate round trip times in milli-seconds:
        Minimum = 0ms, Maximum = 0ms, Average = 0ms
    

     

    Ping ke client yang berada di bawah jaringan lokal Server VPN

    C:\Users\HYD ping 192.168.100.20
    
    Pinging 192.168.100.20 with 32 bytes of data:
    Reply from 192.168.100.20: bytes=32 time=1ms TTL=127
    Reply from 192.168.100.20: bytes=32 time=1ms TTL=127
    Reply from 192.168.100.20: bytes=32 time<1ms TTL=127
    Reply from 192.168.100.20: bytes=32 time<1ms TTL=127
    
    Ping statistics for 192.168.100.20:
        Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
    Approximate round trip times in milli-seconds:
        Minimum = 0ms, Maximum = 1ms, Average = 0ms
    

     

    Konek ke Internet