Tuesday, March 17, 2020

MELAWAN CORONA, TAKLUKKAN CEMAS DENGAN CERDAS

MELAWAN CORONA,  TAKLUKKAN CEMAS DENGAN CERDAS
Oleh: dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ (K)*

Kecemasan  berjamaah melanda dunia termasuk Indonesia. Meskipun Jokowi sudah menyerukan musuh terbesar kita saat ini bukan Corona tetapi  rasa cemas dan berita hoaks, namun hal itu  belum mampu meredam kekhawatiran masyarakat akan bahaya virus yang mematikan itu. Sebenarnya perasaan cemas merupakan hal wajar karena informasi tentang virus Corona wara wiri baik di media sosial maupun di percakapan sehari hari. Setiap hari selalu ada pencetus yang membuat kita seolah tidak bisa hidup tenang.

Cemas sebenarnya merupakan  mekanisme pertahanan seseorang dalam menghaadapi bahaya. Bayangkan jika seseorang tidak punya rasa cemas ia tidak akan punya takut menghadapi bahaya apapun yang mengancam dirinya.  Tentu saja asal cemas itu proporsional.

Di otak manusia ada satu perangkat yang terkait dengan fungsi cemas yakni amygdala. Amygdala merupakan bagian otak yang terkait dengan rasa takut dan pendeteksi adanya bahaya.  Pencitraan otak pada gangguan kecemasan menemukan adanya aktivitas berlebihan pada bagian tersebut. Ketika seseorang menghadapi ancaman, amygdala seolah sebagai alarm yang membuat seseorang bereaksi. Reaksinya hanya ada dua fight (melawan) atau flight (melarikan diri). Selain amygdala ada perangkat otak yang lain  sebagai pusat pertimbangan, kearifan dan logika yakni pre frontal cortex. Karena itu agar pesan sampai ke pre frontal cotex sebaiknya pesan itu tidak berupa “ancaman”.

Lalu apa kaitannya dengan virus Corona? Berita  tentang Corona telah menjadi  ancaman bagi amygdala. Bila seseorang tidak memiliki ketahanan mental yang memadai bisa menjadi pencetus munculnya gangguan kecemasan yang bersifat patologis (tidak normal).  Mereka bereaksi secara berlebihan karena menganggap semua stimulus sebagai ancaman. Bahkan memikirkan yang belum tentu terjadi saja bisa memicu kerja system saraf simpatis untuk bekerja lebih keras, akibatnya detak jantung meningkat, tekanan darah naik dan otot menjadi tegang bahkan bisa memicu zat toksik yang mempercepat peradangan.

Kapan kecemasan disebut patologis? Beberapa kriteria di bawah ini menunjukkan seseorang mengalami gangguan kecemasan umum  sesuai kriteria Diagnostic and Statistical Manual Of Mental Disorder (DSM 5) antara lain:
Rasa cemas dan khawatir yang berlangsung sepanjang waktu selama minimal 6 bulan*
Rasa khwatir yang sulit dikendalikan
Keluhan dan geala tersebut menyebabkan gangguan dalam beraktivitas.
Keluhan tidak didasari oleh penyakit atau kondisi kesehatan khusus.
Selain gejala di atas, gangguan kecemasan umum juga ditandai dengan minimal tiga gejala berikut
Merasa gelisah, tidak bersemangat seolah tersudut
Merasa lelah (tidak sebanding dengan aktivitas)
Mudah tersinggung
Meningkatnya ketegangan otot
Mengalami gagguan tidur (termasuk sulit tidur atau selalu iingin tidur)

*Meskipun ada kriteria minimal 6 bulan, bukan berarti kita membiarkan gangguan kecemasan berlangsung begitu saja dan terlambat untuk mendapat  pertolongan terlebih bila kecemasan tersebut mengganggu fungsi peran, fungsi sosial dan kesehatan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menolong diri sendiri menghadapi kecemasan?
Kecemasan sebenarnya adalah soal persepsi. Bisa saja satu orang menganggap Corona sebagai bahaya bisa juga yang lain merasa bukan bahaya. Bila ada semacam gradasi kecemasan, bisa saja derajat kecemasan satu orang dengan orang lain berbeda meskipun pencetusnya sama yani Corona.

Otak kita punya cara kerja yang unik. Ia akan menggiring kita pada data dan fakta yang kita yakini atau kita takutkan. Misalnya kita sudah mempersepsi Corona sebagai hal yang bahaya, tanpa kita sadari pikiran kita, perilaku kita akan didorong untuk mencari informasi yang pro persepsi kita dan mengabaikan sisi lain yang harusnya menjadi keseimbangan. Oke, memang Corona berbahaya, tetap bukan berarti tidak bisa dicegah dan disembuhkan. Kuncinya adalah menyediakan diri untuk membuka pikiran menerima informasi yang berimbang bukan hanya yang kita yakini saja. Cari tahu dari sumber yang jelas dan bertanyalah pada orang yang berkompeten. Jadilah penyaring informasi yang “cerdas’. Jangan diterima begitu saja bila pemberi informasi bukan orang yang kredibel atau bukan ahlinya.

Virus secara umum sangat terkait dengan kekebalan tubuh termasuk virus Corona. Sebenarnya  tubuh kita mampu melawan virus bila daya tahan tubuh kita baik. Daya tahan tubuh dijaga oleh tentara tubuh yang disebut antibodi. Antibodi  yang kuat selain dipengaruhi oleh asupan makanan yang bergizi dan olah raga, juga dipengaruhi oleh mental emosional. Semakin kita stres dan cemas semakin melemahkan kekebalan tubuh.

Mari kita tetap waspada tanpa harus cemas berlebihan. Bila memang merasa ada yang “tidak beres” dalam tubuh kita segeralah ke dokter. Bila gangguan cemas sudah mengganggu fungsi peran, fungsi sosial bahkan melemahkan ketahanan tubuh datanglah juga ke dokter, psikolog dan psikiater.

Jangan lupa terus memohon pada Allah S.W.T agar diberikan kesehatan lahir dan batin, dihindarkan dari segala musibah dan diberikan kearifan serta kedamaian hati.
Teruslah berfikir positif dan tetaplah sehat.

Karena sehat itu pilhan dan bahagia itu keputusan

*Penulis adalah psikiater di RS PKU Muhammadiyah Wonosari Gunungkidul dan di RSUD Wonosari Gunungkidul dan ativis LSM IMAJI (LSM yang bergerak di bidang kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri di Gunungkidul)

0 komentar:

Post a Comment